Teh hijau dari Bang J warga Singapore kebangsaan India dan lancar berbahasa Indonesia ; Bagian Singapore
Hari hari Singapore berjalan betul betul berjalan, perenungan dalam bus dan berjalan yang meditatif turut mengambil alih sadarku, pada perjalanan menuju Bugis street seperti ada yang memanggil langkahku, mereka oksigen, akhirnya aku menemukan semak belukar ditengah megah nya gedung bingar, aku sempatkan menatap semak belukar yang ternyata kuburan, begitu damai melihat mereka dibersamai silir angin dan gerak gerik daun, begitu damai.
Lalu akhirnya bukan ingin membandingkan mana yang lebih baik dan tidak, tapi merasa cukup nya, merasa cukup bisa terbangun jika memang ada pihak lain yang turut memikirkan nasib, tetapi jika kita yang harus memikirkan nasib kita sendiri, merasa cukup menjadi jalan keluar yang penuh bingar penuh pertengkaran. Penyesalan berikutnya datang, sebuah pentas dan diskusi teater Frida Kahlo tak bisa aku ikuti, aku harus geser mnimpali kehidupan lain.
Bang J seorang tour guide warga Singapore dan lahir di India, tetapi juga mahir bahasa Indonesia, ditengah tinggi nya keangkuhan kota, bang J (begitu aku memanggilnya) “biasanya aku dipanggil uncle J gy” timpal nya. Ditengah angkuhnya kota, bang J seolah hadir sebagai penawar dari tuhan, tuhan seperti tau jika aku selalu asing dengan hal berbau kota, obrolan berjam jam dengan teh hijau dan capucino dikedai sederhana seolah membawa ku kerumah, sungguh aku penuh, beberapa aku meletakan obrolan dipermukaan, tetapi setiap yang memakai jiwa, soul dan kedalaman, aku bisa larut dan melarutkan, “15:47 saya harus ke kereta gy, jadwal lain” wah, bagaimana detik pun harus dipikirkan di negara ini ? Bagaimana komitmen terwujud ? Berapa ribuan abad aku tertinggal, berapa ribuan abad negara ku tertinggal
~ Nanyang 2024
Komentar
Posting Komentar