Langsung ke konten utama

Teh hijau dari Bang J warga Singapore kebangsaan India dan lancar berbahasa Indonesia ; Bagian Singapore

 


    Langkah ku diberi tuhan sampai pada negara seberang, setelah yang lalu hanya untuk transit, hari itu berkesempatan berkeseharian didalam nya, tinggi ku selalu muncul di kota kota besar, tapi ternyata kota besar yang terarah membentuk ku jika manusia lain punya hak ruang aman lain, tinggi ku luruh dengan penerimaan. Meroko ditempat tertentu, tidak nyebrang jalan sembarangan, buang sampah dan tidak meludah sembarang, dan segala hal yang terlihat merepotkan diri sendiri tetapi menjaga ruang aman orang lain, dan satu lagi, angkutan umum, aku begitu selalu tergila gila dengan angkutan umum yang betul betul umum, itu artinya ada sebuah lembaga lain yang lebih tinggi betul betul mendengarkan dan menyediakan hal baik untuk warga nya. Berapa banyak motor, mobil yang tidak perlu dapat diminimalisir dengan adanya angkutan umum yang mumpuni ini, berapa banyak bahan bakar yang bisa kita hemat, jatuh cintaku pada angkutan umum pertama kali terjadi di Jepang, bagaimana aku sebagai orang awam yang tidak mengerti bahasa kanji tetapi bisa beradaptasi dengan berbagai line kereta atas tanah bawah tanah nya, lalu kemudian kedua di negara ini ; Singapore. Ah banyak sekali latah ku, banyak sekali yang tidak aku tau.

    Hari hari Singapore berjalan betul betul berjalan, perenungan dalam bus dan berjalan yang meditatif turut mengambil alih sadarku, pada perjalanan menuju Bugis street seperti ada yang memanggil langkahku, mereka oksigen, akhirnya aku menemukan semak belukar ditengah megah nya gedung bingar, aku sempatkan menatap semak belukar yang ternyata kuburan, begitu damai melihat mereka dibersamai silir angin dan gerak gerik daun, begitu damai. 

    Lalu akhirnya bukan ingin membandingkan mana yang lebih baik dan tidak, tapi merasa cukup nya, merasa cukup bisa terbangun jika memang ada pihak lain yang turut memikirkan nasib, tetapi jika kita yang harus memikirkan nasib kita sendiri, merasa cukup menjadi jalan keluar yang penuh bingar penuh pertengkaran. Penyesalan berikutnya datang, sebuah pentas dan diskusi teater Frida Kahlo tak bisa aku ikuti, aku harus geser mnimpali kehidupan lain. 

    Bang J seorang tour guide warga Singapore dan lahir di India, tetapi juga mahir bahasa Indonesia, ditengah tinggi nya keangkuhan kota, bang J (begitu aku memanggilnya) “biasanya aku dipanggil uncle J gy” timpal nya. Ditengah angkuhnya kota, bang J seolah hadir sebagai penawar dari tuhan, tuhan seperti tau jika aku selalu asing dengan hal berbau kota, obrolan berjam jam dengan teh hijau dan capucino dikedai sederhana seolah membawa ku kerumah, sungguh aku penuh, beberapa aku meletakan obrolan dipermukaan, tetapi setiap yang memakai jiwa, soul dan kedalaman, aku bisa larut dan melarutkan, “15:47 saya harus ke kereta gy, jadwal lain” wah, bagaimana detik pun harus dipikirkan di negara ini ? Bagaimana komitmen terwujud ? Berapa ribuan abad aku tertinggal, berapa ribuan abad negara ku tertinggal


~ Nanyang 2024 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rini Mei dan angin Takisung

  Kadang kita bertiga anak kecil naif yang berjalan di kubang lumpur kesalahan dan tidak sadar, kadang nyaring tangisan lebih sering kami bagi dari tawa itu sendiri, salah pijak langkah nya Rini, Mei dan tentu aku, membawa kami ke ruang yang sama, ruang yang boleh jadi apapun bahkan tukang salah sekalipun, setelah itu kami rayakan di coffeeshop atau toko kue untuk saling bilang “hey, aku hidup”. Di 8 tahun terakhir ini, selain kiriman video yang lewat, saling memberi tanda suka menjadi cukup karna masing kami harus mulai mengisi perut sendiri. Benar saja, kegiatan mengisi perut mengantarkan Rini pada rumah baru nga, dan Mei pada gelar pendidikan kedua nya. Ini gila, bagaimana jalan sepanjang itu, sedikit demi sedikit mereka gapai ditengah beling kaca telapak kaki nya, bagaimana bisa tidak tidur tiap malam dan bangun tiap pagi, bertahun mereka lakukan. Sudah 8 taun lama nya, kami masih sering bertanya “what if” bagaimana jika dibelakang aku berlaku seperti ini ya? Bagaimana jika aku...

Tak ada penulis perempuan, para perempuan sibuk berburu dan meramu

  Perempuan   itu jika punya mimpi berarti egois, jika mimpinya membuat nya keluar rumah iya durhaka. Perempuan itu, jika pagi hari nya mendahulukan menyesap matahari, dari pada membuat kopi untuk suami, berarti ia salah. Perempuan boleh sekolah tapi cuci piring dulu setiap pagi, tak guna mengulang materi, tak perlu tau dalam dalam tut wuri handayani. Perempuan itu selama nya dipilihkan “jangan kesana sayang, itu membahayakan” suara manis ayah nya pun kekasihnya, mengungkung laju harap ingin tau nya.  Tetap di ruang kotak kamar kamu yang aman ya “nanti kamu merawat seluruh keluarga” dan jangan lupa juga rawat diri mu, jika anak mu perempuan jangan lupa ajarkan jika pilihan keluar rumah nya hanya ketika ia menikah, selain itu tak berkenan. Inggid merasa menyebrang terberat nya ialah menyebrang sungai brantas di umur nya yang lima, dekade depan kemudian ia mulai menyusuri karma karma orang dewasa nya, Inggid masuk sekolah favorit di kota nya tanpa sulit, pelajaran sekolah n...

Aku tuhan, aku ingin berjalan dengan kaos dan rok ku, tak beralas kaki tak merias diri. Aku tuhan berjalan dengan martabat

       Mimpi yang ini umurnya sudah 3 tahun, selama 3 tahun pula ia ku genggam, kadang, malam malam tertentu mimpi ku yang ini memanggil, katanya ; “lihat Cyn, aku masih di sini” ia tak pernah lari, ia mengikuti di belakang, selama itu pula tak ada momen ku beri perhatian lebih untuk mimpi ku yang satu ini. Tapi ternyata rencana tuhan lain, di 3 tahun ini aku diberi tapak tapak modal agar pantas mengenyam satu mimpi itu, aku didekatkan sepenuhnya pada ruang yang hanya peduli apa yang kita katakan dan pikirkan, alih alih apa yang kita kenakan, ruang tempat isi kepala bertengkar dan tetap saling topang, ruang yang juga membuat sadar, jika kita semua anica, dari sana membagi hanya yang baik baik muncul, kita tak punya waktu banyak, para kita manusia ini tak punya waktu banyak, kita pergi dan datang sendiri sendiri, dan akan sangat merugikan jika diwaktu tersebut kita menyinggahkan yang buruk. Di kehidupan kali ini, juga harus selesai kali ini.     Jam menunjuk...