Langsung ke konten utama

Kabar duka seorang penyair ; Cok Sawitri

 https://www.instagram.com/reel/CwmsJjvy-Rz/?igsh=bWQ0a3g0N3lkYnZw



    Sang gunung menyerahkan jejaknya ke laut. Sebuah pertunjukan yang bisa kau sebut pameran, exibhition, sebuah jembatan penyampaian jika apa apa yang dari hulu akan berakhir di hilir, apa apa yang dari gunung akan berakhir di laut, apa apa yang dari hutan, turut berdampak pada laut. Mari kita bahas secara holistik dengan bahasa yang mudah kita pahami, sebuah bentang alam berawal dari gunung, ia lebih tinggi dari laut, semua kegiatan diatas gunung berdampak pada laut, itu artinya juga berdampak pada setiap jengkal sebelum sampai laut ; sungai. Masalah besarnya sebelum menjaga laut, dan apa apa yang terlalui sebelum laut, perkuatan pion semua sudut harus terlebih dulu terjadi di gunung, mungkin ia, mereka juga harus terjadi di laut dan apa apa yang melalui nya, tapi, awalnya harus gunung. Gunung melingkupi juga hutan, juga curug, juga air terjun, juga terkadang danau, juga masyarakat, juga penduduk, juga segala elemen alam, kita alam, kita organik kita manusia ini alam, lalu jangan pernah menambah suram. Sebenarnya, para masyarakat gunung tak pernah perlu peran lembaga (baca ; negara) dalam menunjukan apa yang harus mereka lakukan, hari ini, sebagian lembaga sedikit demi sedikit menggigit rentang objek nya, ah saya sulit menjelaskan disini, point nya seperti ini, ada beberapa divisi yang saya tangkap maupun yang masih berada dalam blind spot, bagaimana kita membawa utopis utopis sebuah kehidupan yang akan terjadi dibalik kerusakan, dan sebuah kehidupan yang sudah cukup dan didambakan, dengan cukup mereka warga gunung tidak menambah nambah, dan menolak ditambah. Para kita para pengajar bagaimana membawa imajinasi dibangku bangku sekolah dasar jika diujung sana ada yang sudah rentan dengan pemilihan kegiatan tertentu, pemilihan kegiatan membuka lahan, pemilihan kegiatan mengeruk sungai, pemilihan kegiatan menggunduli pohon. Bagaimana peran kita para pengajar bergerilya memasuki subscounsious mind para murid kita, jangan pernah menganggap mereka tidak mengerti atau terlalu kecil. Saya adalah sebuah perwujudan pada motivasi motivasi guru sekolah dasar yang ditanamkan pada saya. Sejalan dengan berbagai penelitian jika investasi pendidikan paling besar harus terjadi pada anak umur 0-7 tahun, karna itu saat canvas putih yang harus ditulis yang baik baik, tetapi jangan dulu segamblang itu, sebagai pengajar harus paham identitas, identitas suatu tempat, wilayah, sejarah pula bangsa, dan tidak meninggalkan itu dalam praktik nya. Sebuah identitas dan sejarah para pendahulu jawa salah satu nya merawat tafakur dalam sebuah praktiknya, tafakur ialah juga meditasi pada Budha, ialah juga kedalaman berfikir, filsafat mengiyakan itu, dalam filsafat kita disuruh untuk berfikir lebih dalam, dan pada sebuah cabang tafakur berfikir secara meditatif diperlukan, ini artinya setiap pendidikan tidak pernah boleh meninggalkan sisi intelek nya, emosionalnya dan spiritual nya, intelek melalui akademis dan ilmu modern, emosional melalui ilmu humaniora yang selalu saja relevan dari bumi terbentuk sampai hari ini, ilmu humaniora dari filsafat timur, western dan eastern, dan spiritual yang tidak meninggalkan sejarah bangsa dan wilayah. 

    Kesehatan, sebuah divisi yang juga penting dalam praktiknya, sebuah divisi yang juga dipakai dalam merawat masyarakat di gunung, kesehatan tak hanya melampaui sakit fisik, ia juga mental. Bagaimana para perawat sehat tidak pula meninggalkan peran akademis ilmu kesehatan modern, pada fenomena tertentu, juga pula tidak meninggalkan praktik penyembuhan traditional pada wilayah nya, penyembuhan yang ketergantungan nya pada produk herbal hutan, semua ketergantungan tak boleh hanya pada farmasi dan apotek, ia juga harus pada hutan. Harus. Dengan itu terjadi lah keinginan merawat hutan, kembali pada sebuah perjalanan saya di Mentawai Sumatra Barat, sebuah gugusan 4 pulau berjejer salah satunya Natuna dan Siberut, sebuah gugusan pulau yang langsung berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, di dalam pulau Siberut terdapat suku Sikirei, indigenous people yang sebagian menghuni pedalaman pulau Siberut, mereka juga disebut dukun, juga disebut orang yang menyembuhkan, selain dengan mantra dan doa doa mereka menggunakan semua bahan dasar obat dari hutan, sebegitu ketergantungan mereka dengan hutan dan merawat nya, konsep mereka tak muncul dari sebuah jurnal maupun hasil penelitian, konsep mereka tak muncul dari setumpukan buku tebal, konsep mereka pun tak muncul dari sebuah seminar. Tapi mereka lah yang hari ini kita bicarakan, di buku buku kita, di ruang ruang seminar kita, dan penelitian jurnal kita

    Sang gunung menyerahkan jejaknya ke laut, sebuah pertunjukan oleh Cok Sawitri, yang sedang ber-exhibisi menunjukan mengenai apa apa yang dari gunung akan sampai ke laut, sejalan dengan judul exhibisi “sang gunung menyerahkan jejaknya ke laut” seorang penyair yang membacakan syair diselingi nyanyian, diiringi piano dan decak kagum penonton, aku, aku dihipnotis akan sebuah pertunjukan yang dengan sadar aku berangkat untuk menyaksikan, cara beliau menyair dan menyanyi menyatu, itulah beliau, itulah beliau yang disaksikan orang juga yang tidak disaksikan orang, “tidak ada unsur kekerasan dalam karyaku” telak beliau, sejalan dengan sang Buda yang ajaran nya ku jadikan pondasi, kasih sayang, setegak dengan Muhammad SAW dalam agama lahir ku, kasih sayang, seritme dengan Kristiani, kasih sayang. Pada apapun pada siapapun, kau yang ingin mencoba konsep ini hati hati, pesan ku hati hati, karna beberapa titik ketika kau mulai menggenggam konsep ini, tuhan akan menguji, menghadirkan kecewa, rasa benci, rasa marah, dan bagaimana kau teguh memegang janji dan komitmen mu pada konsep ini, untuk tetap berkasih sayang, dengan porsi dan koridor tertentu pada praktiknya. Kata tuhan ; Biarlah aku cukup menjadi tempat bergantung. Ali Imran 173 "حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ" (Hasbunallâhu wa ni'mal wakîl), "Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”

    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rini Mei dan angin Takisung

  Kadang kita bertiga anak kecil naif yang berjalan di kubang lumpur kesalahan dan tidak sadar, kadang nyaring tangisan lebih sering kami bagi dari tawa itu sendiri, salah pijak langkah nya Rini, Mei dan tentu aku, membawa kami ke ruang yang sama, ruang yang boleh jadi apapun bahkan tukang salah sekalipun, setelah itu kami rayakan di coffeeshop atau toko kue untuk saling bilang “hey, aku hidup”. Di 8 tahun terakhir ini, selain kiriman video yang lewat, saling memberi tanda suka menjadi cukup karna masing kami harus mulai mengisi perut sendiri. Benar saja, kegiatan mengisi perut mengantarkan Rini pada rumah baru nga, dan Mei pada gelar pendidikan kedua nya. Ini gila, bagaimana jalan sepanjang itu, sedikit demi sedikit mereka gapai ditengah beling kaca telapak kaki nya, bagaimana bisa tidak tidur tiap malam dan bangun tiap pagi, bertahun mereka lakukan. Sudah 8 taun lama nya, kami masih sering bertanya “what if” bagaimana jika dibelakang aku berlaku seperti ini ya? Bagaimana jika aku...

Tak ada penulis perempuan, para perempuan sibuk berburu dan meramu

  Perempuan   itu jika punya mimpi berarti egois, jika mimpinya membuat nya keluar rumah iya durhaka. Perempuan itu, jika pagi hari nya mendahulukan menyesap matahari, dari pada membuat kopi untuk suami, berarti ia salah. Perempuan boleh sekolah tapi cuci piring dulu setiap pagi, tak guna mengulang materi, tak perlu tau dalam dalam tut wuri handayani. Perempuan itu selama nya dipilihkan “jangan kesana sayang, itu membahayakan” suara manis ayah nya pun kekasihnya, mengungkung laju harap ingin tau nya.  Tetap di ruang kotak kamar kamu yang aman ya “nanti kamu merawat seluruh keluarga” dan jangan lupa juga rawat diri mu, jika anak mu perempuan jangan lupa ajarkan jika pilihan keluar rumah nya hanya ketika ia menikah, selain itu tak berkenan. Inggid merasa menyebrang terberat nya ialah menyebrang sungai brantas di umur nya yang lima, dekade depan kemudian ia mulai menyusuri karma karma orang dewasa nya, Inggid masuk sekolah favorit di kota nya tanpa sulit, pelajaran sekolah n...

Aku tuhan, aku ingin berjalan dengan kaos dan rok ku, tak beralas kaki tak merias diri. Aku tuhan berjalan dengan martabat

       Mimpi yang ini umurnya sudah 3 tahun, selama 3 tahun pula ia ku genggam, kadang, malam malam tertentu mimpi ku yang ini memanggil, katanya ; “lihat Cyn, aku masih di sini” ia tak pernah lari, ia mengikuti di belakang, selama itu pula tak ada momen ku beri perhatian lebih untuk mimpi ku yang satu ini. Tapi ternyata rencana tuhan lain, di 3 tahun ini aku diberi tapak tapak modal agar pantas mengenyam satu mimpi itu, aku didekatkan sepenuhnya pada ruang yang hanya peduli apa yang kita katakan dan pikirkan, alih alih apa yang kita kenakan, ruang tempat isi kepala bertengkar dan tetap saling topang, ruang yang juga membuat sadar, jika kita semua anica, dari sana membagi hanya yang baik baik muncul, kita tak punya waktu banyak, para kita manusia ini tak punya waktu banyak, kita pergi dan datang sendiri sendiri, dan akan sangat merugikan jika diwaktu tersebut kita menyinggahkan yang buruk. Di kehidupan kali ini, juga harus selesai kali ini.     Jam menunjuk...