Langsung ke konten utama

Ber-ulang juga artinya pelan - pelan dan berjalan jauh ; bagian Andalas. Ujung selatan sampai utara nya


    Hadir utuh sadar penuh lahir ketika perenungan suatu pulau di “Lombok” 2021 lalu, disana, hanya aku, pulau, warga lokal dan proses perjalanan. Ditengah dunia yang sakit, covid pada waktu itu. Ku tantang diri berlama - lama jauh dari penyakit. Benar saja, sebanyak 2 tahun covid menyambangi, tak jua aku kena, selain kaki dan punggung pegal karna carrier, tak pernah ada sakit yang berarti. Tak ku kurung diri seperti pinta menkes. Aku buat standar ku sendiri.

    Lalu hadir utuh sadar penuh berlanjut dikenalkan nya aku pada meditasi yang pertama, ia terjadi di pantai berpasir hitam. Di Bali. Segala tuntut dunia yang tak ku ingini bergeser begitu saja. Aku. Ku buat sendiri dunia ku. Tak berapa lama, hanya 2 kali pekan, ku lanjutkan pada perjalanan 5 hari menuju Sumatra, Andalas perenungan aku menyebutnya, perjalanan yang ku bidik ialah perjalanan khidmat terakhir sebelum menyelesaikan yang lain. Setelah itu tetap terjadi teras teras perenungan, tidak dengan waktu lama, tidak dengan tempuh rasa, bagaimana pun seujung kuku pun, aku harus tersentuh dek dek kapal, bagaimana pun ombak kaki kiri ku harus tersentuh air laut yang asli. Tidak mandi, tidak mengganti baju dalam bus kumuh 5 hari, tapi tetap, doa harus mendominasi, berhasil menguji kutipan “hadir utuh sadar penuh” ku yang ku agung agungkan, neraka ku yang harus ku lewati tanpa wakil wakil tubuh lain, menyadarkan jika tuhan tak hanya menguji, ia memberi. Sampailah pada ruang sidang lahan belajar disatu universitas Riau, mereka pelarian kelas utama ku. Disana juga pertama ku temui pasar menjual kodok, es jagung, ruko ruko lama milik tionghoa dengan koko koko kaos oblong dan celana pendek tetapi berdebat crypto. Setelah dari sana, setiap kali jarkoman organisasi yang ku buat, ku sematkan “hadir utuh sadar penuh” aku riya.

    Saat itu setiap bangun pagi, aku perlu mengingat lagi, dimana aku saat ini? Selesai Riau, juga 2 kali pekan, berkutat dengan panas dan bau minyak, berkutat pada tak ada pohon dan air bersih, ku lanjutkan sedikit ke ujung, kepulauan Riau, bahasa melayu mendominasi pendengaranku, dimana aku? Hari itu aku bertemu Ajahn Brahm, bertemu karya nya ditumpukan rak. Buda. Begitulah pertemuan ku dengan nya, di beberapa halaman nya, ia berkata “hadir kini”, ia menegaskan rentetan agung kalimat sakti ku, “hadir utuh sadar penuh” melalui nya aku seperti ditegaskan jika hasil usung kedalaman berfikir melalui laut pelabuhan kapal kapal riuh tawa dan tangisan, aku kumuh, sebentar mandi tetap kumuh lagi, hadir utuh sadar penuh yang aku kira asal bunyi, diujung dunia sini juga ada yang mengamini. Ia mengutip Buda. Aku jatuh pada ajaran ajaran nya.

    Dari sana semua berkolerasi, dari sana kedalaman berfikir menjadi predikat baru, ia sejajar dengan membaca menulis ku, tak berhenti, ku geser sedikit ke pulau sebelah. Batam. Melihat betul betul bagaimana rakyat Batam mengasah skill berdagang mereka, luar biasa, tak memaksa, tak arogan, memakai kedalaman jiwa. Aku rasa Batam benar benar siap pada pariwisata, tolak ukur ku, ketika aku berjalan malam sendiri tak ada mata mata deskriminasi, teh obeng, circle Malaysia baru ku, Konghucu, ikan pari, tak ada guratan kabel sepandang mata melengkapi cerita Batam. Setelah itu Medan, Tangkahan, Sumatra Utara, melewati bukit lawang, melewati pertengkaran panjang. Berdiam berdiam bernafas dideretan pegunungan Leuser, dari sana hubungan ku dengan oksigen terbangun, menyadarkan jika hidup hanya simpulan simpul antara bepergian menetap dan hadir kini, susah payah, oh tentu, sedari sana sembari melihat air jernih pegunungan Leuser mengalir bersama kepak kaki belalai gajah, aku menyadari ada yang tak boleh ditinggalkan, ia instinc, ia nyaring tapi tak bersuara, ia bergumam pada dominasi jangkrik malam, suara lutung ditengah cuaca 17 derajat celcius, ia semakin nyaring dengan dominasi embun Tangkahan. Teringat kembali bagaimana aku menuju ke Tangkahan Medan Sumatra, berawal dari Batam aku memilih menggunakan kapal menuju Medan, harga nya setara dengan tiket kapal menuju Singapore, ada rasa bimbang, apa aku melintas batas? Apa aku menyelesaikan nafas nusantara, sembari berfikir dengan konstan pilihan tetap memilih Tangkahan, pertama kali nya aku bisa marah karna para calo pelabuhan menjatuhkan isi tas ku dan menginjak injak nya, pertahanan diriku saat itu berontak, tapi tak lama, ku tinggalkan dengan sambil setengah berlari karna didepan sana ada yang menunggu ku, ia lebih penting. Di Tangkahan tak lama, setelah semalam bermalam dikos teman Medan, besok hari nya pagi sekali aku mencari angkot menuju Tangkahan dari kota Medan, 4 jam lamanya, hanya membayar 35 ribu dengan garang supir menyambut ku, tapi aku petarung, petualang dan perwujudan gemah ripah loh jinawi, takluk jua si supir bersabar berlembut mengobrol dengan ku, tak lama ia berpesan, “disini, ko bilang saja, ko teman ku” menunjukan teritorial pikir ku, secara tidak langsung kami menasbihkan jika kami teman, teman garang baru ku, walau pertama dan terakhir kami bertemu saat itu, tetap saja kau takluk dengan ku. 

    Tangkahan membuat ku berfikir, balik lagi lain kali, hari ini berhenti Cyn, cukup sampai sini, cukup sampai Tangkahan, besok kita turun lagi, tinggalkan dulu Aceh, bahan ajar tak melulu harus disesap, sisakan hal hal yang ingin kau lakukan, jangan dihabiskan, agar kau punya alasan kembali. Malam ini aku putuskan tidur dan tetap berfikir, setelah obrolan panjang dengan mahout gajah pak Novi mengenai Tangkahan yang tetap asri memegang teguh jiwa pariwisata dengan konsep bahari, tak banyak hotel disini, warga lokal tak rebutan air dengan pariwisata, warga lokal berdaya digdaya, tak ada bangunan berarti yang merusak hak alam, dominasi arsitektur membawa spirit lokal dengan bambu dan kayu, setelah ku korek dominasi konsep sedikit banyak dari asing, ada perasaan lega dan merasa bersalah, lega karna konsep pariwisata seperti itu jangka panjang dan berjalan jauh, merasa bersalah karna berfikiran lega jika asing terlibat, kenapa tidak kita dalam negri, karna jika kita dalam negri terlibat jauh beton dan segala industrial yang harus berdampingan, bisa jadi gajah Tangkahan tidak menginjak kotoran, tapi menginjak cor cor an.

    Diri 20 taun an awal ini terlalu banyak merasa, aku kewalahan, aku belum siap, wadah ku terlalu penuh, kaki ku selalu ingin maju, aku perlu mencerna, dari sana muncul lah aku si lihai berpelan pelan, aku menyemai duduk redam membersamai segala rasa asa, aku menghadapi segala yang perlu dihadapi tanpa wakil wakil lain, aku memberi ruang untuk instinc menjajah diri, senyaring nyaring nya, hingar bingar terakhir tanpa jeda terakhir pada 2022, sedari 2023 aku pelankan ritme, aku turunkan kilometer, berjalan tualang tetap ada, tapi ia penuh perhitungan, memang tak sefrontal dulu, tapi ia anggun dan sakral, 2023 lebih banyak tumpukan buku dari tumpukan suku, membangun sebuah ekosistem diri apa yang perlu dan tak perlu, tapi semua perlu, semua pondasi. Berkutat pada yang belum aku tau, berkutat pada satu entitas murni yang ku gantungi, semua semua pencapaian diri harus dilepas, semua kamu harus ku lepas, aku ialah seonggok tak lebih, semua yang ku dekatkan harus menjadi jembatan pada menuju satu entitas murni itu, semua pendidikan, semua isi kepala, semua ilmu, semua ayah ibu, semua kamu. Melepaskan, menyederhanakan. Hai siapapun kamu, sudah ku bilang, bangun ruang internal mu, didalam sana tempat mu lepaskan force, force itu bahaya, lebih bahaya dari rezim manapun, force itu harus kau lepas pada ruang internal mu, jangan sampai menyerempet, kau boleh pilih sendiri metode yang paling kamu, boleh duduk diam, boleh menulis, boleh sebuah ritual apapun, aku lebih suka mendatangi riak sungai tempat terjadi pertumbuhan bunga yang hari sebelumnya tidak ada, tetapi setelah aku bacakan puisi memihak alam pagi hari nya riak sungai tumbuh bunga, merah muda 3 bunga, disudut kayu bertuliskan batu balian. Alam mendengar, ia tau aku memihak, ia tau selalu tau. Lalu, ketika kau berdoa meminta tuhan memihak mu, tuhan juga memihak asal rasa sedih mu, tuhan tidak berkonsep berkubu, ia tetap mengasihi semua mahkluk nya dengan cara nya dengan jalan nya. 

    “Atas dasar apa mba kesini?”

    “Atas dasar pencarian sudut sudut berfikir pak”

Ditengah diam jeda obrolan saya dan pak Mahout gajah, isi kepala ku terlampau jauh, saat sadar seperti ini memang jernih pilihan pilihan, tapi akan datang lagi seluruh mendung tepat diubun ubun, tak ada kiat kiat, rasakan dan dengarkan, maafkan dirimu jika suatu saat pilihan melewati jalur tidak tepat, tidak tepat hanya sudut mu, kita tidak tau menurut sudut lain. Kembali pada satu entitas murni mu yang selalu bisa kau gantungi, cari tempat lahan ruang bergantung abadi mu, ia tidak mungkin aku, tidak mungkin pula tulisan tulisan ku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rini Mei dan angin Takisung

  Kadang kita bertiga anak kecil naif yang berjalan di kubang lumpur kesalahan dan tidak sadar, kadang nyaring tangisan lebih sering kami bagi dari tawa itu sendiri, salah pijak langkah nya Rini, Mei dan tentu aku, membawa kami ke ruang yang sama, ruang yang boleh jadi apapun bahkan tukang salah sekalipun, setelah itu kami rayakan di coffeeshop atau toko kue untuk saling bilang “hey, aku hidup”. Di 8 tahun terakhir ini, selain kiriman video yang lewat, saling memberi tanda suka menjadi cukup karna masing kami harus mulai mengisi perut sendiri. Benar saja, kegiatan mengisi perut mengantarkan Rini pada rumah baru nga, dan Mei pada gelar pendidikan kedua nya. Ini gila, bagaimana jalan sepanjang itu, sedikit demi sedikit mereka gapai ditengah beling kaca telapak kaki nya, bagaimana bisa tidak tidur tiap malam dan bangun tiap pagi, bertahun mereka lakukan. Sudah 8 taun lama nya, kami masih sering bertanya “what if” bagaimana jika dibelakang aku berlaku seperti ini ya? Bagaimana jika aku...

Tak ada penulis perempuan, para perempuan sibuk berburu dan meramu

  Perempuan   itu jika punya mimpi berarti egois, jika mimpinya membuat nya keluar rumah iya durhaka. Perempuan itu, jika pagi hari nya mendahulukan menyesap matahari, dari pada membuat kopi untuk suami, berarti ia salah. Perempuan boleh sekolah tapi cuci piring dulu setiap pagi, tak guna mengulang materi, tak perlu tau dalam dalam tut wuri handayani. Perempuan itu selama nya dipilihkan “jangan kesana sayang, itu membahayakan” suara manis ayah nya pun kekasihnya, mengungkung laju harap ingin tau nya.  Tetap di ruang kotak kamar kamu yang aman ya “nanti kamu merawat seluruh keluarga” dan jangan lupa juga rawat diri mu, jika anak mu perempuan jangan lupa ajarkan jika pilihan keluar rumah nya hanya ketika ia menikah, selain itu tak berkenan. Inggid merasa menyebrang terberat nya ialah menyebrang sungai brantas di umur nya yang lima, dekade depan kemudian ia mulai menyusuri karma karma orang dewasa nya, Inggid masuk sekolah favorit di kota nya tanpa sulit, pelajaran sekolah n...

Aku tuhan, aku ingin berjalan dengan kaos dan rok ku, tak beralas kaki tak merias diri. Aku tuhan berjalan dengan martabat

       Mimpi yang ini umurnya sudah 3 tahun, selama 3 tahun pula ia ku genggam, kadang, malam malam tertentu mimpi ku yang ini memanggil, katanya ; “lihat Cyn, aku masih di sini” ia tak pernah lari, ia mengikuti di belakang, selama itu pula tak ada momen ku beri perhatian lebih untuk mimpi ku yang satu ini. Tapi ternyata rencana tuhan lain, di 3 tahun ini aku diberi tapak tapak modal agar pantas mengenyam satu mimpi itu, aku didekatkan sepenuhnya pada ruang yang hanya peduli apa yang kita katakan dan pikirkan, alih alih apa yang kita kenakan, ruang tempat isi kepala bertengkar dan tetap saling topang, ruang yang juga membuat sadar, jika kita semua anica, dari sana membagi hanya yang baik baik muncul, kita tak punya waktu banyak, para kita manusia ini tak punya waktu banyak, kita pergi dan datang sendiri sendiri, dan akan sangat merugikan jika diwaktu tersebut kita menyinggahkan yang buruk. Di kehidupan kali ini, juga harus selesai kali ini.     Jam menunjuk...