Langsung ke konten utama

Oh, tidak kah jari tangan yang kau anggap biasa saja ini adalah juga yang membuat teman ku tersungkur ?

 

  
    Plastik yang berisi jagung dan hasil bumi yang ku beli dipedagang pinggir jalan memang ku niatkan untuk ku berikan pada teman ku, ia merayakan pekerjaan baru nya hari ini, dengan sedikit mengutuki takdir karna ia ingin ditempatkan di kota besar, bukan di sini. Ia mengajak ku makan makan lalu setelah itu diakhir malam ku ajak ia menyesap americano pinggir jalan, cukup arabica dengan harga 15 ribu, setelah itu pertukaran pesan pun terjadi, bagaimana ia bercerita mengenai pertemuan nya pada atasan nya yang bermartabat, sehat dan tidak sesuka jidat. Bagaimana ia sebagai penyambung lidah pada ku, dari semua kebaikan atasan nya ia sebar secara cuma cuma, lalu, sakinah nya sampai, bibit bibit baik atasan nya menyebar tanpa beliau berniat menyebar, ada mulut mulut bersuka rela menjadi iklan atas yang hatinya direngguh perbuatan baik juga terhormat itu. Setiap pagi ia berangkat dengan sepeda, tepat jam nya, tak pernah meleset, anaknya 3, setengah delapan teng sudah duduk didepan meja, senin kamis selalu puasa, makanan nya selalu yang direbus, ia cantik, kharisma, ia 55 tahun, bicara nya tak berhenti. Ada satu kegiatan malam yang selalu ia lakukan, dan tak ia ceritakan padaku, tukas jelas panjang lebar bicara teman ku. Oh sampai sudah semua sakinah itu pada ku, pesan malam ini ternyata itu, baik tuhan, aku pilah pilah.
    Pada perjalanan pulang, kepala ku menyuruh ku melalui jalan yang lain, benar saja, ada yang tidak biasa, aku melihat teman ku terkapar, penuh darah, ia kecelakaan, tulang jari tangan nya bengkok. Menuju rumah sakit aku menawarkan diri menemani, pesan nya begini ; oh bagaimana jari yang setiap hari kita anggap biasa saja ini, hari ini teman ku tersungkur karna kehilangan nya. Terjadi obrolan dalam sepersekian detik. “Takut Gy” lirih nya, “Ini aku, kau harus percaya, kau tidak kehilangan jari mu, tubuh pada dasarnya pintar, ia bisa menyembuhkan dirinya sendiri” ke sok tau an ku didukung jurnal yang pernah ku dengar disampaikan seorang dokter melalui peace sea podcast, jika seorang dokter menolak oprasi patah tulang nya, ia minta waktu berbulan bulan menyembuhkan dirinya sendiri dengan tubuh nya, dengan tuhan nya. 
    Aku tidak tidur setelahnya, aku berulang ucap syukur, berulang melihat mengelus ngelus jari tanganku, juga ingat ingat kubangan lumpur, pada saat yang sama teman ku merasa kehilangan penempatan kerja impian nya, pada saat yang sama teman ku yang satu, kehilangan jari nya, pada saat yang sama orang tua Gaza kehilangan anak dan saudaranya. Aku ? Aku tak kehilangan apapun, sedari awal, aku tak memiliki apapun. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak ada penulis perempuan, para perempuan sibuk berburu dan meramu

  Perempuan   itu jika punya mimpi berarti egois, jika mimpinya membuat nya keluar rumah iya durhaka. Perempuan itu, jika pagi hari nya mendahulukan menyesap matahari, dari pada membuat kopi untuk suami, berarti ia salah. Perempuan boleh sekolah tapi cuci piring dulu setiap pagi, tak guna mengulang materi, tak perlu tau dalam dalam tut wuri handayani. Perempuan itu selama nya dipilihkan “jangan kesana sayang, itu membahayakan” suara manis ayah nya pun kekasihnya, mengungkung laju harap ingin tau nya.  Tetap di ruang kotak kamar kamu yang aman ya “nanti kamu merawat seluruh keluarga” dan jangan lupa juga rawat diri mu, jika anak mu perempuan jangan lupa ajarkan jika pilihan keluar rumah nya hanya ketika ia menikah, selain itu tak berkenan. Inggid merasa menyebrang terberat nya ialah menyebrang sungai brantas di umur nya yang lima, dekade depan kemudian ia mulai menyusuri karma karma orang dewasa nya, Inggid masuk sekolah favorit di kota nya tanpa sulit, pelajaran sekolah n...

Aku tuhan, aku ingin berjalan dengan kaos dan rok ku, tak beralas kaki tak merias diri. Aku tuhan berjalan dengan martabat

       Mimpi yang ini umurnya sudah 3 tahun, selama 3 tahun pula ia ku genggam, kadang, malam malam tertentu mimpi ku yang ini memanggil, katanya ; “lihat Cyn, aku masih di sini” ia tak pernah lari, ia mengikuti di belakang, selama itu pula tak ada momen ku beri perhatian lebih untuk mimpi ku yang satu ini. Tapi ternyata rencana tuhan lain, di 3 tahun ini aku diberi tapak tapak modal agar pantas mengenyam satu mimpi itu, aku didekatkan sepenuhnya pada ruang yang hanya peduli apa yang kita katakan dan pikirkan, alih alih apa yang kita kenakan, ruang tempat isi kepala bertengkar dan tetap saling topang, ruang yang juga membuat sadar, jika kita semua anica, dari sana membagi hanya yang baik baik muncul, kita tak punya waktu banyak, para kita manusia ini tak punya waktu banyak, kita pergi dan datang sendiri sendiri, dan akan sangat merugikan jika diwaktu tersebut kita menyinggahkan yang buruk. Di kehidupan kali ini, juga harus selesai kali ini.     Jam menunjuk...
      Pula, aku terima sambil tersenyum, sambil terenyuh, sambil tersungkur. Ungkapan gemah ripah loh jinawi sekarang hanya suduran. Gemah ripah loh jinawi dimuseumkan, hanya kekal pada kepala kepala Belanda. Hijau hari ini artinya busuk, biru hari ini bukan laut, ia takut. Tuhan, tangan mu buntung di bumi pertiwi, diganti nafas nafas gantung “Nus….. aku kesini untuk belajar, bukan jatuh cinta. Di negeri-mu, kau suka pilih esok apa yang mau kau kenakan. Syal warna apa untuk musim dingin mu, sepatu apa untuk musim panas mu. Di negeriku Nus….. ku lahap 1 buku sehari pun tak selesaikan soal, para manusia, para remaja seumur aku harus merupa nabi, sekali lagi Nus, aku disini bukan untuk jatuh cinta, bukan untuk membersamai agenda belanja menu masak harian mu…..”      Mada kembali pada solusi nihil nya, run off dimana mana, bukti hujan tak mengalir begitu saja pada saluran saluran, bukti hujan tak ditelan tanah hutan. Ia terhalang cor cor an. Mada memulai dengan...