Langsung ke konten utama

Kelimutu, Lio dan pertemuan pertama vegetasi ; Bagian Ende

  


   Naif dan belum mau apa apa. Sifat sikap belasan tahun ku ketika aku memulai semua boleh berjalan sesuai instinc, aku seolah selalu menerima apapun yang diberi semesta, aku hanya menjalani tanpa nafsu nafsu, hasrat hasrat, tanpa list kepemilikan. Hari itu keluarga yang kami tumpangi mengajak berkendara jauh, katanya “danau 3 warna gy, kau akan melihat monyet ekor panjang” “tak melihat juga tidak papa bang” sambil aku meneguk kopi yang disiapkan sedari pagi, live a life, merasuki pori pori dan sampai bersemayam dihati, berkendara lah kami ber 4 dengan 2 motor dan 2 helm, disini keselamatan artinya bumi dipijak langit dijunjung, disini keselamatan artinya kau perlakukan semua makhluk sama tanpa raja tanpa tahta, disini bentuk keselamatan juga menuang menimbang apa yang kau keluarkan dari mulut, disini, helm bukan bentuk keselamatan.

    Berjam jam lama nya kelok naik turun jurang ciptaan tuhan membius panas ku, matahari sejengkal itu nikmat terasa, sudut pandang berubah menjadi apa pun yang dari tuhan, patut diberi senyuman, sesekali motor kami panas, kami harus istirahat, aku harus istirahat, ku rebahkan diri disegala rumput tak peduli debu tak peduli semu, semua aku.

    Kelokan akhir terjadi setelah berjam lamanya kami berkendara dari Ende menuju kelimutu, sebuah danau 3 warna yang sering menjadi pertanyaan mengapa warna nya 3? Dan tidak akan kau temukan jawaban ditulisan ku. Setelah sampai kami tracking sekitar 1 jam, tracking ringan untuk selanjutnya sampai pada puncak menyangsikan danau dengan ketiga warna nya dari puncak. Bagian potongan menyatu tubuh organik ku dengan alam, ku temukan kembali di kelimutu, kabut dingin bau belerang menjadi pengalaman baru tubuh ku yang serupa kawah ijen Banyuwangi, tetapi ini Kelimutu Nusa Tenggara, tangga terakhir diselesaikan, aku disambut monyet monyet dan seorang perempuan yang bermeditasi menghadap arah danau berwarna merah, disana terjadi pergulatan kepala dan hatiku, jika sebuah kegiatan yang ingin kau lakukan silakan lakukan, jangan takut akan mengiris hati orang lain, seorang yang menjadi dirinya juga memantik orang lain menjadi dirinya. Oh tuhan pesan apa ini kau hujam aku dengan tokoh tokoh di dunia mu, di sini aku tak ada pena tal ada kertas, dimana aku melimpahkan semua yang harus ku limpahkan ini, aku butuh sepi menyepi menyerap, aku butuh hanya aku dan diriku, setelah itu aku sedikit melipir meninggalkan teman teman untuk mengambil waktu dengan diriku.

    Kisah Kelimutu tak pernah selesai, tapi tak ku ceritakan sampai usai, perjalanan pulang kami mampir melihat desa desa Lio, suku di Ende yang belum sempat ku kenal lebih jauh, tapi sudah ku letakan sepotong hatiku dibalik batu dekat pohon kapuk, kutinggalkan disana, kapan kapan aku ambil kembali dan ku gantikan dengan kabar ku hari ini. ~ Kelimutu, Ende 2019 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

      Pula, aku terima sambil tersenyum, sambil terenyuh, sambil tersungkur. Ungkapan gemah ripah loh jinawi sekarang hanya suduran. Gemah ripah loh jinawi dimuseumkan, hanya kekal pada kepala kepala Belanda. Hijau hari ini artinya busuk, biru hari ini bukan laut, ia takut. Tuhan, tangan mu buntung di bumi pertiwi, diganti nafas nafas gantung “Nus….. aku kesini untuk belajar, bukan jatuh cinta. Di negeri-mu, kau suka pilih esok apa yang mau kau kenakan. Syal warna apa untuk musim dingin mu, sepatu apa untuk musim panas mu. Di negeriku Nus….. ku lahap 1 buku sehari pun tak selesaikan soal, para manusia, para remaja seumur aku harus merupa nabi, sekali lagi Nus, aku disini bukan untuk jatuh cinta, bukan untuk membersamai agenda belanja menu masak harian mu…..”      Mada kembali pada solusi nihil nya, run off dimana mana, bukti hujan tak mengalir begitu saja pada saluran saluran, bukti hujan tak ditelan tanah hutan. Ia terhalang cor cor an. Mada memulai dengan...

Masyarakat Terdahulu Yang Jauh Dari Konsep Manusia Modern, Tak Memerlukan Journaling Dan Meditasi, Segala Yang Mereka Lakukan Sudah Meditatif. Kita Yang Sedari Kecil Dipasangkan Konsep Konsep Yang Tidak Cocok, Tidak Pas, dan Belum Tentu Benar. Sungguh Memerlukan Meditasi dan Journaling untuk Melepas dan Melerai Semua Yang Tidak Pas

  Wajah tulusnya , ia tinggal sendiri, satu satunya barang terbaik dan berharga untuknya di pondok bambu nya adalah baju sembahyang didalam lemari. Bagiku, segala hal termasuk base genep juga terbaik. Baju sembahyang ; tersusun rapi, bersih, putih, ia jaga sekalipun debu tak boleh hinggap, tak asal tempat tidur, tempat makan, tempat heningnya semua bersatu dengan ibu. Satu satunya dosa lingkungan nya hanya sabun cuci piring, segala air langit tak ia halangi dengan bubuk industri, baca ; semen. Ia kembalikan semua pada perut ibu Ia beri aku 1 jeruk, 1 manggis dan puluhan kesan manis. “Sudah makan?” “Belum, tapi dengan begini ku pastikan aku akan kenyang” ayo makan, dengan pepes umbut pisang, kelapa dan jantung pisang, tidak lupa nasi hangat, ia banggakan itu semua padaku. Aku……? Aku lahap menilap kebanggaan itu….. Di desa paling bersih di dunia ini, berkali mendapati beragam raya asal se es ar paman Sam yang aku membaca nya adalah desa terpolitik di negeri ini, aku serap dingin ai...

Meraba Qiblat

                                              Bali selatan selalu begitu                                             Suka sekali menepis damai                                             Memburu ramai                                             Merongrong dari jati diri sendiri     Pertama kali aku datang, anjing itu menggonggong mengaum ngaum, dihari kesekian, ia tersenyum, ia    telah hapal aroma dan wajahku. Disuatu sore, dibalik pagar ia keluarkan ...