Langsung ke konten utama

Aku tetap karya tuhan, aku tetap lampu redup, tetap prague, tetap Osho, tetap Kafka, tetap Buda, aku tetap puisi ; Bagian sebelah selatan selat Makassar

 


    Aku melihat semua orang indah, mereka rambut berantak, mereka tanpa kamuflase, kulit legam nya, gigi patahnya, mata merahnya, rambut putih nya, keriput sudut mata nya, luka lututnya, pecah para telapaknya, kuku hitam nya, mereka semua indah. Dibalik bundar mata hitam ada tumpukan buku yang mereka libas dijutaan malam, tergambar pada kedalaman pemilihan kata ketika berbicara, dibalik tajam sejahtera tatap nya ada ribuan konflik yang ia lerai tergambar pada selalu ia dahulukan senyuman dari kekesalan tiap kali berbeda pendapat, dibalik tenang damai senyum tergambar dari lubuk sanubari hati jiwa pikiran dan senyuman, terbangun dari meditasi zikir dan menyendiri rutin yang tidak hadir hanya dalam semalam seminggu sebulan setahun. Ketika aku memilih melihat yang tidak terlihat, tuhan menunjukan.

    Agustus 2025 salah satu pesan nya ku semai pada perjumpaan keluarga baru ku, ia sebuah pulau sebelah selatan selat Makassar, pulau yang begitu saja aku temukan, dengan keyakinan yang selalu yakin tiap kali akan packing. Aku tahu ini jalan ku, malam itu aku membelah gunung menuju kota tersebut, menyinggahi rumah pak RT yang selalu aku singgahi ketika di kota tersebut. Tempat, kota dan pulau yang tidak bisa aku sebutkan namanya, warga pulau tidak suka ramai, mereka menolaki turis turis karna satu dan lain hal, mereka tidak suka hiruk tidak suka pikuk. Semalam bermalam di rumah pak RT banyak yang berubah dari terakhir kali aku kesana, mushala baru dan renovasi kamar mandi semakin membuat ku betah, setelah ibadah pagi dan mandi aku duduk didepan jendela memandang kolong kolong rumah yang terisi sampah berpadu air, maklum, wilayah kami rumah panggung mendominasi, sembari memandangi air dan sampah, aku ditemani buku pemberian penerbit gramedia utama, melalui mba Anti, ia menyuruh ku memilih “Gy, kamu mau yang mana?” Dipegang nya beberapa buku, salah satunya dari Okky Madasari berjudul Mata Di Tanah Melus, ku baca sinopsis nya, petualangan, “aku ambil ini mba”. Mba Anti adalah orang yang menghubungi ku untuk mengajak ku menjadi moderator mas Aan Mansyur terkait buku baru nya, tawaran itu juga membuat ku sujud syukur karna kesempatan berdatangan tak henti henti, kesempatan berliterasi dan hidup jujur setelah lulus nya aku dari perguruan tinggi seolah selalu menghampiri. Tidak pernah menyangka dan terfikir jika penulis yang broadcast email nya aku ikuti, hari itu aku berbincang terkait buku puisi barunya, terkait apa apa dan siapa yang begitu saja keluar melalui mulut ku tanpa aku rencanakan. Untuk yang ini tuhan, aku simpan dalam dalam.

    Pagi hari membaca buku baru didepan jendela pak RT  aku lanjutkan ~ aku berkegiatan, kalian kehilangan sebagian tulisan ku, disaat yang sama ibu di Gaza kehilangan anaknya, disaat yang sama teman ku kehilangan jari nya akibat kecelakaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak ada penulis perempuan, para perempuan sibuk berburu dan meramu

  Perempuan   itu jika punya mimpi berarti egois, jika mimpinya membuat nya keluar rumah iya durhaka. Perempuan itu, jika pagi hari nya mendahulukan menyesap matahari, dari pada membuat kopi untuk suami, berarti ia salah. Perempuan boleh sekolah tapi cuci piring dulu setiap pagi, tak guna mengulang materi, tak perlu tau dalam dalam tut wuri handayani. Perempuan itu selama nya dipilihkan “jangan kesana sayang, itu membahayakan” suara manis ayah nya pun kekasihnya, mengungkung laju harap ingin tau nya.  Tetap di ruang kotak kamar kamu yang aman ya “nanti kamu merawat seluruh keluarga” dan jangan lupa juga rawat diri mu, jika anak mu perempuan jangan lupa ajarkan jika pilihan keluar rumah nya hanya ketika ia menikah, selain itu tak berkenan. Inggid merasa menyebrang terberat nya ialah menyebrang sungai brantas di umur nya yang lima, dekade depan kemudian ia mulai menyusuri karma karma orang dewasa nya, Inggid masuk sekolah favorit di kota nya tanpa sulit, pelajaran sekolah n...

Aku tuhan, aku ingin berjalan dengan kaos dan rok ku, tak beralas kaki tak merias diri. Aku tuhan berjalan dengan martabat

       Mimpi yang ini umurnya sudah 3 tahun, selama 3 tahun pula ia ku genggam, kadang, malam malam tertentu mimpi ku yang ini memanggil, katanya ; “lihat Cyn, aku masih di sini” ia tak pernah lari, ia mengikuti di belakang, selama itu pula tak ada momen ku beri perhatian lebih untuk mimpi ku yang satu ini. Tapi ternyata rencana tuhan lain, di 3 tahun ini aku diberi tapak tapak modal agar pantas mengenyam satu mimpi itu, aku didekatkan sepenuhnya pada ruang yang hanya peduli apa yang kita katakan dan pikirkan, alih alih apa yang kita kenakan, ruang tempat isi kepala bertengkar dan tetap saling topang, ruang yang juga membuat sadar, jika kita semua anica, dari sana membagi hanya yang baik baik muncul, kita tak punya waktu banyak, para kita manusia ini tak punya waktu banyak, kita pergi dan datang sendiri sendiri, dan akan sangat merugikan jika diwaktu tersebut kita menyinggahkan yang buruk. Di kehidupan kali ini, juga harus selesai kali ini.     Jam menunjuk...
      Pula, aku terima sambil tersenyum, sambil terenyuh, sambil tersungkur. Ungkapan gemah ripah loh jinawi sekarang hanya suduran. Gemah ripah loh jinawi dimuseumkan, hanya kekal pada kepala kepala Belanda. Hijau hari ini artinya busuk, biru hari ini bukan laut, ia takut. Tuhan, tangan mu buntung di bumi pertiwi, diganti nafas nafas gantung “Nus….. aku kesini untuk belajar, bukan jatuh cinta. Di negeri-mu, kau suka pilih esok apa yang mau kau kenakan. Syal warna apa untuk musim dingin mu, sepatu apa untuk musim panas mu. Di negeriku Nus….. ku lahap 1 buku sehari pun tak selesaikan soal, para manusia, para remaja seumur aku harus merupa nabi, sekali lagi Nus, aku disini bukan untuk jatuh cinta, bukan untuk membersamai agenda belanja menu masak harian mu…..”      Mada kembali pada solusi nihil nya, run off dimana mana, bukti hujan tak mengalir begitu saja pada saluran saluran, bukti hujan tak ditelan tanah hutan. Ia terhalang cor cor an. Mada memulai dengan...