Langsung ke konten utama

Aku tuhan, aku ingin berjalan dengan kaos dan rok ku, tak beralas kaki tak merias diri. Aku tuhan berjalan dengan martabat

     


Mimpi yang ini umurnya sudah 3 tahun, selama 3 tahun pula ia ku genggam, kadang, malam malam tertentu mimpi ku yang ini memanggil, katanya ; “lihat Cyn, aku masih di sini” ia tak pernah lari, ia mengikuti di belakang, selama itu pula tak ada momen ku beri perhatian lebih untuk mimpi ku yang satu ini. Tapi ternyata rencana tuhan lain, di 3 tahun ini aku diberi tapak tapak modal agar pantas mengenyam satu mimpi itu, aku didekatkan sepenuhnya pada ruang yang hanya peduli apa yang kita katakan dan pikirkan, alih alih apa yang kita kenakan, ruang tempat isi kepala bertengkar dan tetap saling topang, ruang yang juga membuat sadar, jika kita semua anica, dari sana membagi hanya yang baik baik muncul, kita tak punya waktu banyak, para kita manusia ini tak punya waktu banyak, kita pergi dan datang sendiri sendiri, dan akan sangat merugikan jika diwaktu tersebut kita menyinggahkan yang buruk. Di kehidupan kali ini, juga harus selesai kali ini.

    Jam menunjukan pukul 17:00 aku tersenyum, satu email masuk, email tersebut berkata ingin aku terlibat dimimpi ku yang 3 tahun ku genggam ini, dengan suka dan rela ku peluk sajadah, ku remas erat, tangan kiri ku bergerak sendiri, lewat gerakan itu tuhan seperti mengatakan “sama sama”, bagi ku ini penting, aku tak ingin menyia nyia kan kesempatan ini, bagaimana pun aku harus selalu bersekolah, menerima semua ilmu dari bumi manusia, ku kutip pak Pram. Disana aku ingin menyerap sesuai wadah ku menyerap, aku ingin menjadi radiate atas pilihan pilihan truth ku, disana mungkin aku lebih banyak mendengarkan, tersenyum dan menimpali jawaban dengan kutipan kutipan buku M. Narewo berjudul budak yang mempengaruhi ku berapa belakang ini.

    Setelah itu aku singgahi tempat meditasi kesukaan ku, tidak jauh dari museum blanco, sejalan dengan bukit campuhan, di perempatan pasar seni aku singgahi teman ku yang biasa menjual tiket tari kecak, lalu nasi campur mak Juwel. Yang berbeda, kali ini aku bukan plesiran, aku betul betul memilah realita apa yang akan ku jalani disini, pencarian ku terhadap lansia perempuan yang tinggal sendiri masih berlanjut, kegiatan ini aku menyebutnya staycation indigeneous people, barang telinga dan timpalan sederhana ku bisa membuat para lansia yang tinggal sendiri ini merasa ter perhatikan. Sudah berapa banyak kehidupan yang lalu tidak menarik perhatian ku, juga karna sering ku dengarkan diriku, terakhir pesan nya begini, “jadilah teman bagi siapapun bagi apapun” tercetuslah staycation pada indigineous people terutama lansia yang tinggal sendiri, untuk ini tuhan, untuk satu ini juga, bantu aku pelihara semangat ku.

    Langkah mengikuti rasa penasaran ku masih berlanjut, mereka tak hanya datang dari kegiatan menantang, mereka cenderung datang dari bilik kamar sunyi senyap panas pengap, didalam sana topik reinkarnasi minta dipupuk, kepenasaranan siapa aku dikehidupan lalu menggebu gebu, aku rasa informasi itu ku perlukan, dari sana aku bisa melihat hidup yang kali ini lebih luas. Memahami, memaklumi.

    Oh satu lagi, dedikasi penuh pada menulis membaca dan mengajar ternyata tak hanya membuat tubuh fisik ku lepas, juga membuat jiwa ku bebas, “kau ke dinas pendidikan lapor, siapa tau dapat insentif” sebuah keteraturan baru yang aku maknai pengekangan buat ku “tidak pak, saya begini saja, sukarela” ku ambil pulpen dan kertas, aku tulis “mereka di dalam ruang dinas itu hanya tau industri, mereka mencetak, mereka memperbesar kubangan inspdustrial, tak sekali kali mereka memerdekakan, mereka membelenggu, para anak yang mahir menulis dimatikan, para anak yang mahir bercerita dikekang, para anak yang mahir melukis dikikis, semua harus satu standar. Seragam”

~Ubud 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rini Mei dan angin Takisung

  Kadang kita bertiga anak kecil naif yang berjalan di kubang lumpur kesalahan dan tidak sadar, kadang nyaring tangisan lebih sering kami bagi dari tawa itu sendiri, salah pijak langkah nya Rini, Mei dan tentu aku, membawa kami ke ruang yang sama, ruang yang boleh jadi apapun bahkan tukang salah sekalipun, setelah itu kami rayakan di coffeeshop atau toko kue untuk saling bilang “hey, aku hidup”. Di 8 tahun terakhir ini, selain kiriman video yang lewat, saling memberi tanda suka menjadi cukup karna masing kami harus mulai mengisi perut sendiri. Benar saja, kegiatan mengisi perut mengantarkan Rini pada rumah baru nga, dan Mei pada gelar pendidikan kedua nya. Ini gila, bagaimana jalan sepanjang itu, sedikit demi sedikit mereka gapai ditengah beling kaca telapak kaki nya, bagaimana bisa tidak tidur tiap malam dan bangun tiap pagi, bertahun mereka lakukan. Sudah 8 taun lama nya, kami masih sering bertanya “what if” bagaimana jika dibelakang aku berlaku seperti ini ya? Bagaimana jika aku...

Tak ada penulis perempuan, para perempuan sibuk berburu dan meramu

  Perempuan   itu jika punya mimpi berarti egois, jika mimpinya membuat nya keluar rumah iya durhaka. Perempuan itu, jika pagi hari nya mendahulukan menyesap matahari, dari pada membuat kopi untuk suami, berarti ia salah. Perempuan boleh sekolah tapi cuci piring dulu setiap pagi, tak guna mengulang materi, tak perlu tau dalam dalam tut wuri handayani. Perempuan itu selama nya dipilihkan “jangan kesana sayang, itu membahayakan” suara manis ayah nya pun kekasihnya, mengungkung laju harap ingin tau nya.  Tetap di ruang kotak kamar kamu yang aman ya “nanti kamu merawat seluruh keluarga” dan jangan lupa juga rawat diri mu, jika anak mu perempuan jangan lupa ajarkan jika pilihan keluar rumah nya hanya ketika ia menikah, selain itu tak berkenan. Inggid merasa menyebrang terberat nya ialah menyebrang sungai brantas di umur nya yang lima, dekade depan kemudian ia mulai menyusuri karma karma orang dewasa nya, Inggid masuk sekolah favorit di kota nya tanpa sulit, pelajaran sekolah n...