Langsung ke konten utama

Memetik pesan tuhan pada bicara makhluk nya, masih bagian ; Dewata

 


Ada yang lahir, pun ada yang mati. Perjalanan terbang bermandi mentari dan langit biru nyaris tanpa awan, Ia bersih ia wangi ia biru. Proses menuju airport pun seolah lancar, begitu sampai jalan lurus terus “panggilan terakhir untuk penerbangan yang saya pilih” tanpa jeda tunggu lama, saya masuk dengan lancar, tuhan menyertai tuhan memberkati. Imbuh seru ku. Aku ditempatkan pada seat yang juga menenangkan, sebelah kiri berkebangsaan India atau Arab, aku tak begitu awas, sebelah kanan berkebangsaan asia, mungkin China. Terasa oleh ku saling beri ruang dan hormat diperjalanan kurang lebih nya 1 setengah jam ini. Sungguh aku seperti diingatkan oleh teori ini “kita menarik sesuatu mesti ada alasan dan pesan” disana ada wajah tuhan. Tak ada yang kebetulan tak ada yang berkesudahan.

    Dewata ; sekian ini, aku siap menimbang segala yang belum aku mengerti, terpapar pada bahasa yang aku mati mati an harus adaptasi, begitu dalam bumi manusia mu tuhan, pun banyak yang aku harus pelajari, ku genggam ku pegang yang ini. Lalu, ini tebal ini kuat, aku bersinggungan kembali dengan seorang ibu yang baru saja mengalami amputasi pada suami nya, aku paham tuhan, kenapa aku dipersiapkan untuk ini, kenapa aku yang lalu penuh, karna untuk memenuhi, pertemuan kami terjadi begitu saja, berminggu aku tinggal dirumah beliau, ku dapati begitu banyak pesan tuhan melalui bicara beliau, aku catat aku tanggap, sungguh pula aku tau mengapa kilometer pantai, hektar hutan, terjun curug tak menarik perhatian sesampai ku di Dewata, karna yang aku singgahi ini sudah sangat cukup, memenuhi, merindangi. Aku melihat cantik indah pada setiap lekuk sudut yang diberi, pada penjual sate, pada penjual jeruk peras, pada ibu ini. “Tepat mba apa yang kau pilih” imbuhnya setelah aku bercakap, jika bagi saya bu, perlu sekali jeda, perlu sekali menimbang menimang, mana yang perlu mana yang lebih perlu, apalagi saya perempuan. Kami berdua tersenyum, ia menutup pagar melepas aku pergi sebentar ke pantai matahari terbit.


~2025 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rini Mei dan angin Takisung

  Kadang kita bertiga anak kecil naif yang berjalan di kubang lumpur kesalahan dan tidak sadar, kadang nyaring tangisan lebih sering kami bagi dari tawa itu sendiri, salah pijak langkah nya Rini, Mei dan tentu aku, membawa kami ke ruang yang sama, ruang yang boleh jadi apapun bahkan tukang salah sekalipun, setelah itu kami rayakan di coffeeshop atau toko kue untuk saling bilang “hey, aku hidup”. Di 8 tahun terakhir ini, selain kiriman video yang lewat, saling memberi tanda suka menjadi cukup karna masing kami harus mulai mengisi perut sendiri. Benar saja, kegiatan mengisi perut mengantarkan Rini pada rumah baru nga, dan Mei pada gelar pendidikan kedua nya. Ini gila, bagaimana jalan sepanjang itu, sedikit demi sedikit mereka gapai ditengah beling kaca telapak kaki nya, bagaimana bisa tidak tidur tiap malam dan bangun tiap pagi, bertahun mereka lakukan. Sudah 8 taun lama nya, kami masih sering bertanya “what if” bagaimana jika dibelakang aku berlaku seperti ini ya? Bagaimana jika aku...

Tak ada penulis perempuan, para perempuan sibuk berburu dan meramu

  Perempuan   itu jika punya mimpi berarti egois, jika mimpinya membuat nya keluar rumah iya durhaka. Perempuan itu, jika pagi hari nya mendahulukan menyesap matahari, dari pada membuat kopi untuk suami, berarti ia salah. Perempuan boleh sekolah tapi cuci piring dulu setiap pagi, tak guna mengulang materi, tak perlu tau dalam dalam tut wuri handayani. Perempuan itu selama nya dipilihkan “jangan kesana sayang, itu membahayakan” suara manis ayah nya pun kekasihnya, mengungkung laju harap ingin tau nya.  Tetap di ruang kotak kamar kamu yang aman ya “nanti kamu merawat seluruh keluarga” dan jangan lupa juga rawat diri mu, jika anak mu perempuan jangan lupa ajarkan jika pilihan keluar rumah nya hanya ketika ia menikah, selain itu tak berkenan. Inggid merasa menyebrang terberat nya ialah menyebrang sungai brantas di umur nya yang lima, dekade depan kemudian ia mulai menyusuri karma karma orang dewasa nya, Inggid masuk sekolah favorit di kota nya tanpa sulit, pelajaran sekolah n...

Aku tuhan, aku ingin berjalan dengan kaos dan rok ku, tak beralas kaki tak merias diri. Aku tuhan berjalan dengan martabat

       Mimpi yang ini umurnya sudah 3 tahun, selama 3 tahun pula ia ku genggam, kadang, malam malam tertentu mimpi ku yang ini memanggil, katanya ; “lihat Cyn, aku masih di sini” ia tak pernah lari, ia mengikuti di belakang, selama itu pula tak ada momen ku beri perhatian lebih untuk mimpi ku yang satu ini. Tapi ternyata rencana tuhan lain, di 3 tahun ini aku diberi tapak tapak modal agar pantas mengenyam satu mimpi itu, aku didekatkan sepenuhnya pada ruang yang hanya peduli apa yang kita katakan dan pikirkan, alih alih apa yang kita kenakan, ruang tempat isi kepala bertengkar dan tetap saling topang, ruang yang juga membuat sadar, jika kita semua anica, dari sana membagi hanya yang baik baik muncul, kita tak punya waktu banyak, para kita manusia ini tak punya waktu banyak, kita pergi dan datang sendiri sendiri, dan akan sangat merugikan jika diwaktu tersebut kita menyinggahkan yang buruk. Di kehidupan kali ini, juga harus selesai kali ini.     Jam menunjuk...